Sore yang panas. Aku masih di Kampung Cekok. Di rumah ayah Lil. Tenang. Jauh dari kebisingan, terutama dari suara klakson (hon) pete-pete (nama sejenis public transport di Makassar). Rumah yang paling dekat berjarak kira-kira 100m dari rumah Ayah Lil. Masih terasa suasana kampung. Kambing, sapi, pohoh-pohon nyiur dan kicau burung. Mungkin diberi nama Kampung Cekok kerana jalannya yang bengkang bengkok. Pernah aku hampir kecelakaan ketika membawa mobil proton putih kepunyaan mertua melalui salah satu selekoh tajam kerana hampir menabrak mobil yang sedang bergerak berlawanan arah. Aku bertamu di rumah Ayah Lil. Sudah hampir 2 pekan aku di sini. Tidak kemana-mana. Cuma di sini (di rumah). Menemani isteri tercinta yang sedang menduduki ujian akhir sebelum bergelar dokter. Kadang keluar menghantar isteri ke USM. Tatkala itu aku sendirian. Memang kadang terasa jenuh. Tapi kadang memang menjadi suatu keperluan untuk berhenti sejenak dan bersendiri. Sekadar untuk berbenah. Melihat kembali siapa diri ini. Tetapi tidak bisa lama. Nanti berpenyakit.
Sedang aku asyik menikmati cendol buatan Cik Ini, isteri kepada Ayah Lil (untuk pengetahuan Cik Ini memang pintar memasak)tiba-tiba terlihat awan gelap di balik jendela. MasyaAllah, titisan-titisan air mula berjatuhan dari langit. Sudah beberapa hari tidak hujan dan cuaca memang agak panas. Segera aku menghabiskan mangkuk cendolku yang terakhir (tambah 2 kali). Tombol pintu samping ku capai dan pintu ku buka. Tetes-tetes hujan mulai membasahi pipi. Seperti orang yang tidak pernah merasakan tetesan hujan. Memang hujan sore itu kurasakan berbeda dari biasanya. Sukar untuk aku jelaskan. Cuma ia membuat aku merasa tenang. Seperti baru menyelesaikan suatu persoalan yang besar. Sekadar tetesan-tetasan air. Tetapi terasa amat bermakna. Ya…amat bermakna.
Aku mula merenung. Subhanallah!! ! Salah satu nikmat Allah yang amat penting bagi umat manusia, bahkan kepada seluruh alam dan ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Sungguh, banyak sekali ibrah yang bisa kita dapatkan (jika kita hamba Allah yang berfikir). Pernah seorang ustaz berpesan “jadilah seperti air yang bergerak”. Takkala air bergerak, berbagai manfaat bisa kita dapatkan, dan akan menjadi semakin bernilai ketika ia terus bergerak. Air yang bergerak adalah air yang suci dan menyucikan. Air terjun yang bergerak memberikan keindahan.
Air laut dan sungai yang bergerak membawa kapal-kapal berlayar. Air yang bergerak jugalah yang menggerakkan turbin-turbin penjana elektrik.
Tetapi ketika air tidak bergerak, berbagai penyakit dan masalah timbul. Air yang bertakung menjadi tempat membiaknya nyamuk dan akhirnya mengakibatkan mewabahnya penyakit dengue. Selain itu, bisa juga menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit kulit.
Sungguh, aku ingin sekali menjadi seperti air yang bergerak. Gelombangnya sering memberi manfaat kepada yang lain dan terkadang memberi peringatan-peringatan kepada orang-orang yang lalai seperti terjadinya sunami, banjir dan berbagai fenomena alam yang lain. Dan takkala nabi Allah Musa berhadapan dengan firaun, air jugalah yang menenggelamkan firaun yang zalim. Aku kira begitulah harusnya sifat seorang mukmin. Selalu cuba untuk memberi manfaat kepada yang lain. Saling menasihati, dan berjuang menentang musuh-musuh Allah.
Namun, tatkala seorang mukmin berhenti dari aktivitas dakwah dan nasihat menasihati, mereka kemudian akan menjadi sumber penyakit bagi ummat ini. Persis seperti air yang tidak bergerak. Bahkan sering menular. Mereka menjadi orang yang lebih mementingkan diri. Tidak peka dengan kondisi ummat yang semakin parah. Selesa dengan kehidupan mereka. Tiada perubahan. Stagnan.
Tapi suatu kelebihan dari air, jika ia disekat atau dibendung, ia akan menguap dan kemudian berpindah ke tempat yang lain, lalu turun sebagai air hujan yang memberikan manfaat kepada makhluk Allah yang lain yang lebih memerlukan. Mungkin itulah yang pernah dilami oleh saudara-saudara Ikhwanul Muslimin di Mesir suatu ketika dahulu. Tatkala mereka disekat, ditangkap, diseksa dan organisasi mereka dibubarkan, banyak dikalangan mereka yang merantau ke negara-negara lain dan menyebarkan fikrah Islam tidak kira dimana mereka berada sehingga kemudian pergerakan mereka menjadi sebuah pergerakan yang mendunia. Subhanallah!!
Hujan semakin lebat. Aku kembali ke dalam rumah. Sebuah ibrah yang amat berharga aku dapatkan pada sore ini. Aku ingin seperti air yang bergerak. Untuk mencapai 1 tujuan yang mulia, tidak cukup menjadi insan yang berilmu, tetapi harus juga menjadi seorang mukmin yang muharrik. Sentiasa bergerak dan berjihad sehingga akhirnya tercapai apa yang di impikan selama ini. Hidup mulia atau shahid di jalan ini.
