Salam untuk semua..aku dalam perjalanan pulang dari Malaysia. Menuju ke Makassar. Terasa sangat berat untuk meninggalkan keluarga, apalagi isteri tercinta. Namun sudah menjadi fitrah, suatu yang dicintai kadang tidak bersama secara lahiriah. Apalagi cinta pada kekasih sejati, yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Yang mengetahui sedalam mana cinta hamba-hambanya. Tidak terbaca oleh indera. Yang ada adalah keyakinan akan kebersamaan serta kecintaan.
Terasa banget suasana jawa. Nongkrong di Café Taman Sari di bandara Jakarta. Terdengar alunan muzik jawa. Disebelah aku, 2 orang pria lagi ngombrol tentang bisnis. Rancak. Transit selama 6 jam di bandara Jakarta terasa sangat jenuh. Bosan. Perasaan yang sering dirasakan oleh banyak insan yang telah menisbatkan diri mereka pada dakwah yang mulia ini. Ketika diberi amanah untuk melakukan suatu tugas, apalagi tugas tersebut membutuhkan waktu yang lama dan tidak sesuai dengan selera, pada waktu itu sering timbul perasaan jenuh dan bosan. Tidak sedikit dari mereka yang meniggalkan tugas dan pos dakwah mereka. Teringat sewaktu masih di rumah Ayah Lil. Aku membantu Iffah dan Azim (anak ayah Lil) mengulangkaji matapelajaran Aqidah untuk ujian penggal mereka. Menghafal rukun iman dan rukun islam. Terbayang guru-guru tadika yang pernah mengajar aku tentang rukun iman dan rukun islam melalui nasyid yang sering aku nyanyikan sewaktu masih kanak-kanak. Mungkin semua orang tahu. Tetapi terkadang mereka lupa. Termasuk diri yang hina ini. Bukan lupa akan rukun-rukun iman..tetapi tidak menghayati rukun-rukun iman yang telah dipelajari dan dihafal sejak masih kecil. Ketika kita mengaku mengenal malaikat, apakah kita benar-benar menghayati makna di sebalik keimanan kita terhadap makhluk Allah ini. Cuba bayangkan, ketika malaikat-malaikat yang telah ditugaskan oleh Allah merasa bosan dengan tugas-tugas mereka. Yang menjaga neraka ingin menjaga syurga, yang mencatat kejahatan ingin mencatat kebaikan, yang menurunkan rezeki malah ingin menyoal manusia di dalam kubur dan seterusnya. Apa akan berlaku. Tak terbayangkan. Begitulah juga dengan insan-insan yang ingin memperjuangkan agama ini. Ketika diberikan tugas oleh murabbi, naqib atau masul,terkadang pasti ada titik jenuh. Merasa bosan. Tetapi itulah harga sebuah kejayaan. Memerlukan mujahadah dan pengorbanan. Belajarlah dari peristiwa Uhud. Marilah kita segarkan kembali keimanan kita. Siram kembali hati-hati yang telah layu. Renungi kembali sejauh mana intima’ kita terhadap dakwah yang mulia ini. Sesungguhnya dakwah ini hanya akan dimenangkan oleh shohibul ‘Azimah, bukan di tangan orang-orang pelit yang selalu mencari rukhsah. Intansurullah hayansurkum, Wayutsabbit aqdaamakum.


